Keunikan Kota Salatiga yang Perlu Anda Ketahui, Salah Satunya Bikin Penasaran

Keunikan Kota Salatiga 

kota salatiga
Kota Salatiga


Sebagai salah satunya kota diantara dua kota besar yang menjadi pusat lalu lintas dengan sejuta nuansa, yaitu Kota Semarang dan eks-Keresidenan Soloraya, Salatiga dengan luas 56,7 km2 ini ternyata banyak memiliki keelokan karena lokasinya yang ada di kaki Gunung Merbabu.


Keunikan Kota Salatiga ini ternyata sudah dianggap lama, persisnya pada periode kolonialisme Belanda. Waktu itu pemerintah Hindia Belanda menjuluki Salatiga sebagai kota paling indah di Jawa tengah.

dari banyak keunikan kota salatiga berikut 7 keunikan yang dapat kami uraikan :


1. Nama ‘Salatiga' memiliki arti 3 kesalahan yuk simak,,


Asal-usul nama Salatiga tidak terlepas dari cerita Ki Ageng Pandanaran, seorang Adipati Semarang di periode Kesultanan Demak yang turut mengelana bersama Sunan Kalijaga. Diperjalanan itu, Sunan Kalijaga minta Ki Ageng tinggalkan semua harta bendanya.


Meskipun si Adipati sanggup memenuhi janjinya, si istri ternyata masih menyalahi persetujuan itu dengan memasukkan emas dan berlian ke tongkat. Di tengah-tengah perjalanan, mereka berjumpa dengan sekawanan pencuri dan Sunan Kalijaga meluluskan beberapa pencuri itu untuk ambil harta benda dan beberapa pencuri itu ambil tongkat yang berisi berlian dan emas punya istri adipati itu.


Sesudah kejadian itu, Sunan Kalijaga berbicara berbicara ke Ki Pandanaran dan istrinya jika dianya akan menyebut tempat di mana mereka dirampas bernama ‘Salatiga' yang diambil dari 3 kekeliruan Ki Pandanaran dan istrinya, yakni pelit, tinggi hati dan menyengsarakan rakyat.


2. Merupakan salah satu kota paling tua


Salatiga berdiri pada 24 Juli 750 Masehi hingga umurnya telah lebih dari 1.000 tahun. Bukti berdirinya kota ini berdasar prasasti Plumpungan yang ada di Dusun Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo. Prasasti itu menerangkan jika Salatiga awalannya ialah tanah perdikan namanya Hampra.


Tanah perdikan sebagai tanah pemberian raja yang dikasih ke wilayah yang dipandang berjasa ke pimpinannya. Rakyat yang tinggal di situ dibebaskan dari bayar pajak atau upeti.


Tanah perdikan atas daerah Hampra itu diberi oleh Raja Bhanu, seorang raja besar yang wilayah kekuasaannya mencakup Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Boyolali. Berdasar pada Perda No. 15 tahun 1995, penentuan tanah perdikan oleh Raja Bhanu itu sebagai dasar tanggal lahir Kota Salatiga.


3. Sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia

Predikat yang diberi oleh Sama dengan Institute for Democracy and Peace sebagai salah satunya Kota Tertoleran ke-2 sesudah Kota Singkawang sudah terimplementasikan secara riil di kehidupan beragama warga Kota Salatiga. Dengan formasi penganut agama yang variasi, Salatiga terus berusaha memberikan ruangan yang serupa untuk semua warga untuk melaksanakan ibadah, berekspresif, mengaktualisasikan diri, dan lain-lain.


4. Indonesia Mini

Salatiga dipanggil Indonesia mini karena banyak masyarakat pendatang dari wilayah yang lain bermacam. Sebagian besar beberapa pendatang datang dari Pulau Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Medan, Bali, NTT, NTB, Maluku, Papua sampai Tiongkok untuk menuntut pengetahuan dalam suatu kampus swasta di Salatiga, yakni UKSW


5. Enting-Enting Gepuk Ciri khas Salatiga

Enting-enting gepuk sebagai camilan yang dibuat dari kacang tanah, gula pasir, air, dan vanili. Berupa prisma segitiga sama kaki dan dibuntel dengan kertas sebagai keunikan oleh-olehan asal Salatiga ini. Rasanya manis renyah gurih dan rasa ciri khas kacang tanah terasa sangat.


Awalnya, enting-enting gepuk ini dirintis dengan seorang imigran dari Fukikian China namanya Khoe Choeng Hok pada 1920-an. Pembikinan pertama kalinya dilaksanakan di Klenteng HOK TEK BIO No 13 Salatiga, karena dia sebagai juru kunci klenteng itu.


Diberi nama gepuk karena proses pembikinannya digepuk sampai lembut sampai seluruh bahan tercampur menjadi satu. Enting-enting gepuk dibikin tanpa bahan pengawet dan bahan warna, tapi bisa bertahan sampai enam bulan.


Enting-enting gepuk terdiri dari 2 susunan, yakni susunan kulit dan susunan isi. Susunan kulit lebih keras, gurih, dan berasa manis karena semakin banyak memiliki kandungan gula. Dan, didalamnya cuman kacang tanah yang ditumbuk lembut.


Sekarang ini, enting-enting gepuk mempunyai beberapa variasi rasa. Ada enting-enting gepuk rasa durian, jeruk, cokelat, dan jahe. Ada juga enting-enting gepuk yang memakai gula merah, hingga rasanya tidak begitu manis seperti memakai gula pasir. Ada pula variasi yang lain memakai bahan tambahan berbentuk wijen dan ampas kelapa


6. Prasasti Plumpungan

Cikal akan lahirnya Salatiga tercatat dalam batu besar sejenis andesit memiliki ukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 mtr. yang seterusnya disebutkan prasasti Plumpungan.

Berdasar Prasasti yang ada di Dusun Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo itu, karena itu Salatiga telah ada semenjak tahun 750 Masehi, yang ada di saat itu sebagai daerah Perdikan. Sejarahwan yang sekalian pakar Epigraf Dr. J. G. de Casparis mengubah tulisan itu selengkapnya yang seterusnya ditingkatkan oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka.

Prasasti Plumpungan berisi ketentuan hukum mengenai status tanah perdikan atau swatantra untuk satu wilayah yang saat itu namanya Hampra, yanng sekarang namanya Salatiga. Pemberian perdikan itu sebagai hal yang spesial pada periode itu dengan seorang raja dan tidak tiap wilayah kekuasaan dapat menjadi wilayah Perdikan.

Perdikan memiliki arti satu wilayah dalam kerajaan tertentu yang dibebaskan dari semua kewajiban pembayaran pajak atau upeti karena mempunyai kekhususan tertentu. Dasar pemberian wilayah perdikan itu dikasih ke dusun atau wilayah yang betul-betul berjasa ke seorang raja.

Prasasti yang diprediksi dibikin pada Jumat, 24 Juli tahun 750 Masehi itu, dicatat dengan seorang Citraleka, yang saat ini dikenali dengan panggilan penulis atau pujangga, ditolong oleh beberapa pendeta atau resi dan dicatat dengan bahasa jawa kuno: "Srir Astu Swasti Prajabyah" yang memiliki arti "Mudah-mudahan Berbahagia, Selamatlah Rakyat Sekaligus".

Sejarahwan memprediksi, jika warga Hampra sudah berjasa ke Raja Bhanu yang disebut seorang raja besar dan benar-benar memerhatikan rakyatnya, yang mempunyai wilayah kekuasaan mencakup sekitaran Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Kabupaten Boyolali. Penentuan dalam prasasti itu sebagai titik tolak berdirinya wilayah Hampra dengan cara resmi sebagai wilayah Perdikan dan dicatat dalam prasasti Plumpungan. Atas dasar catatan prasasti itu dan dikuatkan dengan Perda No. 15 tahun 1995 karena itu diputuskan Hari Jadi Kota Salatiga jatuh di tanggal 24 Juli.


7. Paling indah di Jawa tengah

Sebuah kota ialah tempat untuk warga tinggal, bekerja, mendapat  pengajaran, kesehatan dan tempat untuk terhubungnya hubungan sosial. Untuk memberikan dukungan beberapa fungsi kota di atas, karena itu dibutuhkan beragam factor pendukung seperti keamanan, konsistensi politik dan satu factor yang paling memberikan dukungan peranan kota sebagai tempat tempat tinggal yakni factor lingkungan. 


Lingkungn yang teratur, udara yang sejuk dan panorama alam yang asri ialah banyak hal yang membuat warga kerasan untuk menetap dan tinggal dalam suatu kota.


Di Jawa tengah, ada satu kota yang dulu jadi tempat dambaan untuk beberapa orang kulit putih untuk menetap dan tinggal. Dari sisi lingkungan, kota ini mempunyai semua elemen yang membuat nyaris siapa kerasan untuk tinggal. Kota itu ialah Kota Salatiga. Sebuah kota kecil yang berada di lajur lintasi Kota Semarang-Solo ini dulunya sebagai tempat favorite bangsa kulit putih Hindia Belanda untuk menetap dan tinggal.


Dulu Kota Salatiga ialah daerah yang ditetapkaan sebagai sebuah Kotapraja lewat keputusan pemerintahan Hindia Belanda dalam staadsblad atau lembar negara dengan nomor 266 tahun 1917 yang mengatakan jika daerah Salatiga diputuskan sebagai daerah otonom namanya de gementee Salatiga atau Kotapraja Salatiga. Penentuan status Kotapraja ini satu diantaranya dilandasi oleh factor warga yang tidak lain karena di Kota Salatiga dulunya disukai oleh warga kulit putih untuk tinggal. Hingga karena jumlahnya warga kulit putih yang tinggal, kenaikan status daerah jadi kotapraja makin gampang selainnya tentu saja factor lain seperti luas daerah dan keuangan wilayah yang di saat itu dipenuhi dengan daerah Salatiga menjadi sebuah kotapraja.

Oleh pemerintahan Hindia Belanda, Kotapraja Salatiga diperkembangkan jadi sebuah wilayah yang dikelola dan terkonsep. Pengendalian daerah di lingkungan Kotapraja Salatiga termasuk maju pada periodenya sebagai sebuah kota yang pantas huni dengan memerhatikan kondisi geografis dan kearifan warga sekitaran dalam soal penempatan rumah. 


Ide pengaturan Kotapraja Salatiga dijumpai sekarang ini sebagai sebuah pengaturan lingkungan yang ikuti ide garden city dan tropischee staad. Ide garden city disaksikan dari pengaturan Kotapraja Salatiga yang dikonsep berdasar perdusunan untuk mendapat hubungan sosial yang kuat dengan penempatan rumah yang dikelilngi oleh perkebunan dan daerah pertanian dan pengaturan lingkungan bikinan berbentuk taman, lajur hijau, rumah berhalaman, dan mekanisme perputaran kota berbentuk jalan (Ardianto, 1996). 


Dan ide tropischee staad disaksikan dari pengaturan daerah Kotapraja Salatiga yang disamakan dengan kondisi Hindia Belanda berbentuk arsitektur penjajahan di daerah pengaturan ruangan tropis dan diperlengkapinya pengaturan daerah dengan taman, sarana umum, sarana pengajaran, tempat peribadatan dan fasilitas pendukung umum. Pengendalian itu memperlihatkan ide pengaturan ruangan daerah Kotapraja Salatiga diatur secara terkonsep.


Dengan terkonsepnya daerah dan disokong oleh kehadiran Kotapraja Salatiga yang mempunyai keadaan geografis di daratan tinggi, rentang alam yang cantik dan temperatur udara yang seperti cuaca di eropa, De Gementee Salatiga/Kotapraja Salatiga oleh pemerintahan Hindia Belanda dikatakan sebagai "Salatiga Dea Schoonnste Staad Van Midden Java" atau Salatiga kota terindah di Jawa tengah.


Sekarang Kota Salatiga makin mengalami perkembangan dan masih tetap jadi kota tempat tinggal dambaan untuk masyarakatnya. Tidak itu saja, saat ini lebih banyak warga yang dari beragam wilayah di Indonesia bersama-sama tiba tiap tahunnya ke Kota Salatiga untuk belajar bersamaan berdirinya universtas-universitas besar di Salatiga.

itulah beberapa keunikan kota Salatiga yang merupakan daya tarik tersendiri untuk menarik minat berkunjung di kota ini.

LihatTutupKomentar