Bagaimana Kehidupan Keagamaan di Kerajaan Sriwijaya

 Kehidupan Keagamaan di Kerajaan Sriwijaya


kehidupan keagamaan di kerajaan sriwijaya
candi muara takus (pixabay)


Sriwijaya ialah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang berdiri di Pulau Sumatera pada era ke tujuh, kehadirannya ditunjukkan dari penemuan prasasti Kedudukan Bukit (berangka tahun 682 Masehi).


 Bukti lain berkenaan kehadiran kerajaan Sriwijaya didapat dari catatan pendeta Tiongkok (China) namanya I Tsing. Dia bercerita dalam tulisannya jika pernah berkunjung Sriwijaya sepanjang enam bulan di tahun 671. Lalu bagaimana kehidupan politik, sosial, ekonomi dan keagamaan di kerajaan Sriwijaya?


Pendiri sekalian raja pertama Kerajaan Sriwijaya namanya Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Berdasar isi prasasti Kedukkan Bukit, lokasi kerajaan ini ada di pinggir Sungai Musi. 


Untuk ketahui riwayat kerajaan Sriwijaya secara tepat (fakta), pasti kita harus tahu apa sumber riwayat yang sukses diketemukan. Informasi selanjutnya baca di sini


Saat sebelum kita fokus membahas kehidupan politik, sosial, ekonomi dan agama Kerajaan Sriwijaya,, apa kalian sudah tahu kapan kerajaan ini alami masa keemasan dan keruntuhannya? 


Dengan singkat, periode keemasan diraih saat dipegang oleh raja namanya Balaputradewa. Waktu itu Sriwijaya sebagai pusat peningkatan dan pengajaran agama Budha di Asia Tenggara. 


Seterusnya, periode kehancuran terjadi pada periode raja Sri Sudamani Warmadewa. Menurunnya Sriwijaya dikarenakan oleh beberapa serangan dari kerajaan lain dalam atau luar nusantara.


Kehidupan keagamaan di Kerajaan Sriwijaya


agama di kerajaan sriwijaya
situs peninggalan sriwijaya (pixabay)


Agama yang diyakini oleh warga Kerajaan Sriwijaya ialah Hindu dan Budha. Masuknya agama Hindu dan Budha dibawa oleh beberapa pedagang dari India. Diambil dari wikipedia, agama pertama kali yang diyakini ialah agama Hindu. 


Selanjutnya berdasarkan catatan I Tsing, pada perubahan seterusnya agama Budha memimpin kehidupan warga Sriwijaya. Bahkan juga sebagai pusat studi agama Budha (I Tsing).


Beberapa agama yang diyakini sebagai dari hasil campur aduk dengan pedagang dari India dalam aktivitas perdagangan. Tetapi, pada perkembangn seterusnya banyak pedagang dari Timur tengah yang berdatangan. 


Awalannya dengan arah untuk berdagang, tetapi lama-lama dampak Islam berkembang. Ini menyebabkan timbulnya kerajaan-kerajaan Islam pada periode kehancuran Kerajaan Sriwijaya.


Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya


Konsentrasi khusus berkaitan kehidupan politik Kerajaan Sriwijaya yakni daerah kekuasaan, beberapa raja yang memerintah, dan jalinan dengan kerajaan lain baik luar negeri dan dalam. 


Berdasar bukti yang ada dari isi prasasti Leiden, Kerajaan Sriwijaya sudah lakukan kerja sama dengan kerajaan Chola di India. Jalinan baik dengan kerajaan itu diikuti dengan pengangkutan pendeta dari Sriwijaya ke India dan pembikinan Biara untuk pendeta itu. 

Seterusnya, berikut beberapa raja yang perah berkuasa di Kerajaan Sriwijaya, mencakup :

Dapunta Hyang Srijayanasa : 

Dia ialah raja pertama sekalian pendiri Kerajaan Sriwijaya. Namanya ada dalam Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo. Saat Srijayasana berkuasa, dia sukses meluaskan daerah kerajaan sampai ke Jambi. Harapan sebagai dasar yaitu jadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar.

Balaputeradewa : 

Tidak diterangkan dengan jelas, tetapi perlu kalian kenali, Balaputeradewa sebagai raja yang sukses bawa kerajaan Sriwijaya berkembang pesat. Periode pemerintahannya diprediksi berjalan di tahun 850 masehi.

Selainnya ke-2 raja kerajaan Sriwijaya di atas, rupanya ada banyak beberapa raja lain. Tetapi, sumber berkenaan kehidupan politik kerajaan Sriwijaya pada periode beberapa raja yang lain kurang komplet. Nama beberapa raja itu seperti Sri Indra Waraman 724 M (datang dari informasi China), Rudrawikrama 727 (informasi China), Wishnu 775 M (Prasasti Ligor), Maharaja 851 M (Informasi Arab), Sriudayadityawarman 960 (Informasi Chiana), Marawijayatunggawarman 1044 M (Prasasti Leiden), dan Sri Sanggahrama Wijayatunggawarman 1044 (dalam prasasti Chola).


Daerah kekuasaan kerajaan Sriwijaya menghampar luas di Indonesia sisi barat (Nusantara waktu itu) dan beberapa daerah di Asia Tenggara. Tetapi pusat pemerintahannya di wilayah yang saat ini jadi kota Palembang. 


Sriwijaya sukses mengalahkan wilayah di luar nusantara seperti Kedah di Semenanjung Malaya.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya mencakup aktivitas pertanian, hasilnya selanjutnya diperjualbelikan ke beberapa pedagang asing yang singgah. Ini disokong dengan letak yang paling vital sebagai lajur perdagangan Internasional. 


Hasil bumi dari pertanian itu mengangkat aktivitas perdagangan, mengakibatkan banyak pedagang dari China dan India beramai-ramai berdatangan.


Factor lain simpatisan aktivitas ekonomi ialah berhasilnya Sriwijaya kuasai daerah-daerah vital disekelilingnya seperti Selat Sunda, Selat Malaka, Laut Natuna dan Laut Jawa. 


Terkuasainya beberapa daerah itu tidak lepas dari kemampuan armada laut Kerajaan Sriwijaya dengan kapalnya yang demikian banyak.


Kehidupan Sosial Kerajaan Sriwijaya


Kehidupan sosial warga di Kerajaan Sriwijaya bercampur dengan beberapa pedagang di luar, karena waktu itu daerah itu sebagai dermaga untuk beberapa kapal asing yang singgah. 


Peluang bahasa yang berkembang ialah bahasa melayu kuno, mereka memakai bahasa itu untuk berbicara dengan beberapa pedagang.


Budaya asing, terutamanya dari India berkembang di daerah Sriwijaya. Misalnya pemakaian beberapa nama ciri khas India dan dampak agama Hindu-Budha makin menebar lengkap, baik warga atau dalam kerajaan. I Tsing, orang China yang sempat berkunjung di Kerajaan Sriwijaya menerangkan jika banyak beberapa pendeta di luar banyak yang datang untuk berguru/belajar bahasa Sanskerta dan pelajari kitab suci agama Budha.

bagaimana kehidupan keagamaan di kerajaan sriwijaya telah sedikit kita bahas di artikel di atas
LihatTutupKomentar