Apa arti singkatan DKI Jakarta ?

 arti singkatan DKI Jakarta adalah ....

a. Daerah Kesunanan Ibukota Jakarta

b. Daerah Kesultanan Ibukota Jakarta

c. Daerah Keibuan Ibukota Jakarta

d. Daerah Khusus Ibukota Jakarta


Jawabannya Adalah ...

d. Daerah Khusus Ibukota Jakarta



arti singkatan dki jakarta
arti singkatan dki jakarta


Jakarta atau dengan secara resmi namanya Daerah Khusus Ibukota Jakarta (dipersingkat DKI Jakarta) ialah ibukota negara dan kota paling besar di Indonesia. 


Jakarta sebagai salah satu kota di Indonesia yang mempunyai status satu tingkat provinsi. Jakarta berada di pesisir sisi barat laut Pulau Jawa. 


Dulu pernah dikenali dengan beberapa nama salah satunya Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Di dunia internasional Jakarta memiliki panggilan J-Town, ataupun lebih terkenal kembali The Big Durian karena dipandang kota yang sepadan New York City (Big Apple) di Indonesia.


Jakarta mempunyai luas sekitaran 664,01 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan warga sejumlah 10.562.088 jiwa (2020).Daerah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang dengan penduduk sekitaran 28 juta jiwa.


Sebagai pusat usaha, politik, dan kebudayaan, Jakarta sebagai tempat berdirinya beberapa kantor pusat BUMN, perusahaan perusahaan asing, dan swasta. Kota ini jadi tempat posisi lembaga-lembaga pemerintah dan kantor sekretariat ASEAN. 


Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, yaitu Lapangan terbang Soekarno-Hatta dan Lapangan terbang Halim Perdanakusuma, dan tiga dermaga laut di Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Ancol.


Etimologi


Peta Batavia (saat ini Jakarta) tahun 1888.

Nama Jakarta beberapa kali sudah ganti nama.


Sunda Kelapa (397-1527)

Jayakarta (1527-1619)

Batavia (1619-1942)

Jakarta (1942-sekarang)

DKI Jakarta (1998-sekarang)


Nama Jakarta telah dipakai semenjak periode wargaan Jepang tahun 1942, untuk menyebutkan daerah sisa Gemeente Batavia yang disahkan pemerintahan Hindia Belanda di tahun 1905.


 Nama "Jakarta" sebagai singkatan dari kata Jayakarta , yakni nama dari Bahasa Sanskerta yang diberi oleh beberapa orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) sesudah serang dan sukses menempati dermaga Sunda Kelapa di tanggal 22 Juni 1527 dari Portugis. 


Nama ini ditranslate sebagai "kota kemenangan" atau "kota kemasyhuran ".Tetapi sebenarnya memiliki arti "kemenangan yang dicapai oleh sebuah tindakan atau usaha" karena berasal dari 2 kata Sanskerta yakni Jaya (जय) yang memiliki arti "kemenangan" dan Karta (कृत) yang memiliki arti "diraih".


Wujud lain ejaan nama kota ini sudah lama dipakai. Sejarawan Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) mengatakan kehadiran "Xacatara bernama lain Caravam (Karawang) ".


Sebuah document (piagam) dari Banten (k. 1600) yang dibaca pakar epigrafi Van der Tuuk sudah menyebutkan istilah wong Jaketra,[15] demikian juga nama Jaketra disebut dalam beberapa surat Sultan Banten[16] dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47)[17] seperti ditelaah Hoessein Djajadiningrat.


 Laporan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebutkan Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta)


Riwayat


1. Sunda Kelapa (397-1527)


Jakarta pertama kalinya dikenali sebagai salah satunya dermaga Kerajaan Sunda yang namanya Sunda Kalapa , berada di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang dikenali sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (saat ini Bogor) bisa dilalui dari dermaga Sunda Kalapa sepanjang 2 hari perjalanan. 


Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa sebagai salah satunya dermaga yang dipunyai Kerajaan Sunda selainnya dermaga Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. 


Sunda Kalapa yang dalam text ini disebutkan Kalapa dipandang dermaga yang paling penting karena bisa dilalui dari ibukota kerajaan yang dinamai Dayo (dengan bahasa Sunda kekinian: dayeuh yang memiliki arti "ibukota") dalam tempo dua hari. 


Kerajaan Sunda sendiri sebagai lanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada era kelima hingga dermaga ini diprediksi sudah ada semenjak era kelima dan diprediksi sebagai ibukota Tarumanagara yang disebutkan Sundapura (bahasa Sanskerta yang memiliki arti "Kota Sunda").


Pada era keduabelas, dermaga ini dikenali sebagai dermaga lada yang sibuk. Beberapa kapal asing yang dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur tengah telah bertambat di dermaga ini bawa beberapa barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, parfum, kuda, anggur, dan zat warna untuk diganti dengan rempah-rempah sebagai komoditas dagang saat itu.


2. Jayakarta (1527-1619)


Prasasti Kesepakatan Sunda-Portugal di Museum Nasional, Jakarta

Bangsa Portugis sebagai Bangsa Eropa pertama kali yang tiba ke Jakarta. Pada era ke-16, Surawisesa, raja Sunda minta kontribusi Portugis yang berada di Malaka untuk membangun benteng di Sunda Kelapa sebagai pelindungan kemungkinan dari gempuran Cirebon yang hendak pisahkan diri dari Kerajaan Sunda. 


Usaha keinginan kontribusi Surawisesa ke Portugis di Malaka itu didokumentasikan oleh orang Sunda dalam narasi pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan bernama titelnya yakni Mundinglaya. 


Tetapi saat sebelum pendirian benteng itu terwujud, Cirebon yang ditolong Demak langsung serang dermaga itu. Penentuan hari kejadian Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, di tahun 1956 ialah berdasar wargaan Dermaga Sunda Kalapa oleh Fatahillah di tahun 1527. 


Fatahillah menukar nama kota itu jadi Jayakarta (aksara Dewanagari: जयकृत) yang memiliki arti "kota kemenangan", Jayakarta berasal dari 2 kata Sanskerta yakni Jaya (जय) yang memiliki arti "kemenangan"dan Karta (कृत) yang memiliki arti "diraih". 


Seterusnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, memberikan pemerintah di Jayakarta ke putranya yakni Maulana Hasanuddin dari Banten sebagai sultan di Kesultanan Banten.


3. Batavia (1619-1942)


Sisa gedung stadhuis atau balai kota Batavia. Bangunan ini saat ini jadi Museum Riwayat Jakarta.


Belanda tiba ke Jayakarta sekitaran akhir era ke-16, sesudah berkunjung di Banten di tahun 1596. Jayakarta di awal era ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang famili Kesultanan Banten. 


Pada 1619, VOC dipegang oleh Jan Pieterszoon Coen menempati Jayakarta sesudah menaklukkan pasukan Kesultanan Banten dan mengganti namanya jadi Batavia. Sepanjang kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang jadi kota yang penting dan besar. (Saksikan Batavia). 


Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Umumnya pada mereka datang dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Beberapa memiliki pendapat jika mereka berikut yang selanjutnya membuat komune yang dikenali bernama suku Betawi.


Waktu itu luas Batavia cuman meliputi daerah yang sekarang ini dikenali sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Saat sebelum kehadiran beberapa budak itu, telah ada warga Sunda yang tinggal di daerah Jayakarta seperti warga Jatinegara Kaum. 


Dan beberapa suku dari etnis pendatang, pada jaman kolonialisme Belanda, membuat daerah komunitasnya masing-masing. Karena itu di Jakarta ada daerah-daerah sisa komune itu ibarat Pecinan, Pekojan, Daerah Melayu, Daerah Bandan, Daerah Ambon, Daerah Bali, dan Manggarai.


Di tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kekacauan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan berlangsungnya kekacauan ini, beberapa orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan lakukan perlawanan pada Belanda. 


Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) di tahun 1818, Batavia berkembang ke selatan. Tanggal 1 April 1905 di Ibukota Batavia dibuat dua kotapraja atau gemeente, yaitu Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. 


Tahun 1920, Belanda membuat kota taman Menteng, dan daerah ini jadi tempat baru untuk pejabat Belanda gantikan Molenvliet di utara. Di tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) sudah terpadu jadi sebuah daerah Jakarta Raya.


Pada 1 Januari 1926 pemerintahan Hindia Belanda keluarkan ketentuan untuk penyempurnaan mekanisme desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibuat pemerintah otonom provinsi.


 Provincie West Java ialah propinsi pertama kali yang dibuat di daerah Jawa yang disahkan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembar Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi satu diantara keresidenan dalam Provincie West Java selain Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.


4. Djakarta (1942-1945)

Wargaan oleh Jepang diawali di tahun 1942 dan menukar nama Batavia jadi Djakarta untuk memikat hati warga pada Perang Dunia II. Kota ini sebagai tempat diadakannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan ditempati Belanda sampai pernyataan kedaulatan tahun 1949.


5. Jakarta (1945-sekarang)


Rentang Jakarta di tahun 2017


Peta Administrasi Propinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI Jakarta)

Semenjak kemerdekaan sampai saat sebelum tahun 1959, Djakarta sebagai sisi dari Propinsi Jawa Barat. Di tahun 1959, status Kota Djakarta alami peralihan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota dipertingkat jadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipegang oleh gubernur. 


Sebagai gubernur pertama adalah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI saat itu dilaksanakan langsung oleh Presiden Sukarno. 


Di tahun 1961, status Djakarta diganti dari Daerah Tingkat Satu jadi Daerah Chusus Ibukota (DKI, saat ini dilafalkan Daerah Khusus Ibukota/DKI) dan gubernurnya masih tetap dijabat oleh Sumarno.


Sejak dipastikan sebagai ibukota, warga Jakarta naik benar-benar cepat karena keperluan tenaga kerja kepemerintahan yang sebagian besar terkonsentrasi di Jakarta. Dalam kurun waktu lima tahun warganya berlipat lebih dari dua kali. 


Beragam kantung pemukiman kelas menengah baru selanjutnya berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman banyak juga dibuat secara berdikari oleh beragam kementerian dan lembaga punya negara seperti Perum Perumnas.


Pada periode pemerintah Soekarno, Jakarta lakukan pembangunan project besar, diantaranya Gelanggang olahraga Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada periode ini juga Kutub Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai diperkembangkan sebagai pusat usaha kota, gantikan kutub Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. 


Pusat pemukiman besar pertama kali yang dibikin oleh faksi pengembang swasta ialah Pondok Cantik (oleh PT Pembangunan Jaya) di akhir dasawarsa 1970-an di daerah Jakarta Selatan.


Pergerakan perubahan warga ini pernah coba didesak oleh gubernur Ali Sadikin di awal 1970-an dengan mengatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" untuk pendatang. 


Peraturan ini tidak dapat jalan dan diabaikan pada saat-saat kepimpinan gubernur selanjutnya. Sampai sekarang ini, Jakarta harus bergulat dengan beberapa masalah yang terjadi karena kepadatan warga, seperti banjir, kemacetan, dan kekurangan alat angkutan umum yang memadai.


Pada Mei 1998, terjadi kekacauan di Jakarta yang makan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR ditempati oleh beberapa mahasiswa yang inginkan reformasi. Buntut kekacauan ini ialah turunnya Presiden Soeharto dari bangku kepresidenan


Apa arti singkatan DKI Jakarta dan sejarah kota jakarta sedikit kami uraikan. silahkan disimak artikel-artikel menarik lainnya hanya di blog duradeka.

LihatTutupKomentar