Kenapa Sriwijaya disebut Kerajaan Maritim ?

Kenapa Sriwijaya disebut Kerajaan Maritim

 

Kerajaan maritim ialah istilah untuk kerajaan yang berada di daerah pesisir pantai dan penduduknya menjalankan aktivitas yang terkait dengan laut, perikanan, perdagangan dan pelayaran. Kerajaan Sriwijaya dikatakan sebagai kerajaan maritim karena ditopang oleh beragam bukti yang ada, yakni letak Kerajaan Sriwijaya yang berada di daerah pinggir Sungai Musi sebagai sungai paling panjang di Indonesia hingga dekat sama air dan transportasi perairan, telah mengenali tehnologi pengerjaan perahu, memercayakan perdagangan antara pulau bahkan juga antara negara dalam ekonomi, ini ditunjukkan dengan dikuasainya Selat Malaka dan Selat Sunda, dan mempunyai angkatan laut yang kuat hingga dengan kemampuan mereka, beberapa lokasi perdagangan vital sukses ditaklukan.


Dengan begitu alasan kenapa Kerajaan Sriwijaya dikatakan sebagai kerajaan maritim karena letak geografisnya yang strategis dan potensi-potensi yang dipunyai oleh Kerajaan Sriwijaya dalam hal perairan dan kelautan, ditunjukkan dengan telah mengenali tehnologi pembuatan perahu dan mempunyai angkatan laut yang kuat.

sriwijaya, kerajaan sriwijaya, sriwijaya kerajaan maritim
kenapa sriwijaya disebut kerjaan maritim





Berikut riwayat Kerajaan Sriwijaya, beberapa raja yang sempat memerintah, puncak kejayaan dan warisannya.



Riwayat Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Sriwijaya berdiri pada era ketujuh Masehi. Kerajaan Sriwijaya dibangun oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada era ketujuh, Dapunta Hyang banyak lakukan usaha peluasan wilayah. Sriwijaya terus lakukan peluasan wilayah, hingga Sriwijaya jadi kerajaan yang besar.


Agar semakin perkuat pertahanannya, di tahun 775 M dibuatlah sebuah pangkalan di wilayah Ligor.


berikut nama raja-raja yang pernah memimpin kerajaan sriwijaya :


  1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa (683 M)
  2. Indrawarman (702 M)
  3. Rudra Wikrama (728-742 M)
  4. Sangramadhananjaya (775 M)
  5. Dharanindra/Rakai Panangkaran (778 M)
  6. Samaragrawira/Rakai Warak (782 M)
  7. Dharmasetu (790 M)
  8. Samaratungga/Rakai Garung (792 M)
  9. Balaputradewa (856 M)
  10. Sri Udayadityawarman (960 M)
  11. Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M)
  12. Hsiae-she (980 M)
  13. Sri Cudamaniwarmadewa (988 M)
  14. Malayagiri/Suwarnadwipa (990 M)
  15. Sri Marawijayottunggawarman (1008 M)
  16. Sumatrabhumi (1017 M)
  17. Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (1025 M)
  18. Sri Dewa (1028 M)
  19. Dharmawira (1064 M)
  20. Sri Maharaja (1156 M)
  21. Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178 M)



Periode keemasan kerajaan sriwijaya


Kerajaan Sriwijaya capai puncak keemasan pada periode pemerintaha Raja Balaputradewa. Dia memerintah sekitaran era kesembilan M. Balaputradewa ialah turunan dari Dinasti Syailendra, yaitu putra dari Raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya. Hal itu dijelaskan dalam Prasasti Nalanda.


Balaputradewa ialah seorang raja yang besar di Sriwijaya. Raja Balaputradewa merajut jalinan kuat dengan Kerajaan Benggala yang waktu itu diperintah oleh Raja Dewapala Dewa.


Raja ini menghadiahi sebidang tanah ke Balaputradewa untuk pendirian sebuah asrama untuk beberapa siswa dan pelajar yang belajar dalam Nalanda, yang dibiayai oleh Balaputradewa, sebagai "dharma".


Hal tersebut tertera dengan baik pada Prasasti Nalanda, yang sekarang ini ada di Kampus Nawa Nalanda, India.


Bahkan juga wujud asrama itu memiliki kemiripan arsitektur dengan Candi Muara Jambi, yang ada di Propinsi Jambi sekarang ini.


Hal itu mengisyaratkan Sriwijaya memerhatikan ilmu dan pengetahuan, khususnya pengetahuan agama Buddha dan bahasa Sanskerta untuk angkatan mudanya.


Pada periode keemasannya, daerah kekuasaan Sriwijaya cukuplah luas.


Beberapa daerah kekuasaannya diantaranya Sumatra dan beberapa pulau sekitaran Jawa sisi barat, beberapa Jawa sisi tengah, beberapa Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan sebagian besar perairan Nusantara.


Bahkan juga Muhammad Yamin mengatakan Sriwijaya sebagai negara nasional yang pertama.


Warisan Riwayat Kerajaan Sriwijaya


Dalam hubungannya dengan perubahan agama dan kebudayaan Buddha, di Sriwijaya diketemukan beberapa warisan.


  • Candi Muara Takus, yang diketemukan dekat Sungai Kampar di wilayah Riau.
  • Di wilayah Bukit Siguntang diketemukan arca Buddha.


Di tahun 1006 Sriwijaya sudah membuat wihara sebagai tempat suci agama Buddha di Nagipattana, India Selatan. Jalinan Sriwijaya dengan India Selatan saat itu benar-benar kuat.


Bangunan yang lain penting ialah Biaro Bahal yang berada di Padang Usang, Tapanuli Selatan. Pada tempat ini juga ada bangunan wihara.




Kenapa Sriwijaya disebut Kerajaan Maritim menjadi sangat jelas dengan uraian di atas.

LihatTutupKomentar